April 10, 2026
Alternative Universe by: grilledbanonna
AU on tiktok: grilledbanonna
Narasi 》Falling For Hirakhi (part 5)
Nazeya dan Aydan selalu punya hubungan yang aneh—dekat, tapi tak pernah benar-benar tenang. Mereka sepupu, tumbuh bersama sejak kecil, saling tahu kebiasaan buruk masing-masing, saling menyebalkan, tapi juga saling mencari saat dunia terasa terlalu berat. Bertengkar sudah seperti bahasa kedua mereka, tapi di balik itu, ada rasa memiliki yang sulit dijelaskan.
Waktu SMA, hidup Nazeya sebenarnya terlihat biasa saja. Ia punya pacar, seseorang yang cukup membuatnya bertahan di hari-hari sekolah yang melelahkan. Aydan sering mengejeknya soal itu, bilang Nazeya terlalu bucin, terlalu lembek. Seperti biasa, Nazeya akan membalas dengan jutekan, dan mereka berakhir saling diam beberapa hari sebelum akhirnya ngobrol lagi seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Tapi menjelang kelulusan, semuanya mulai berubah. Hubungan Nazeya dengan pacarnya berakhir. Bukan karena orang ketiga, bukan juga karena hal besar—hanya karena mereka sama-sama tidak lagi bisa bertahan. Itu menyakitkan, tapi Nazeya masih bisa menahannya.
Ia tidak pernah benar-benar cerita ke Aydan, hanya bilang, "Udah, selesai." Dan Aydan, yang biasanya cerewet, entah kenapa tidak banyak bertanya waktu itu.
Belum sempat luka itu benar-benar sembuh, hidup Nazeya kembali runtuh. Ibunya meninggal dunia.
Setelah kejadian itu, Nazeya tidak memberi tahu Aydan sama sekali. Ia menghilang, menutup diri, menahan semuanya sendirian. Yang tahu hanya orang tua Aydan—mereka yang diam-diam membantu segala urusan keluarga Nazeya, sambil menutupi semuanya dari Aydan atas permintaan Nazeya sendiri.
Nazeya tidak ingin terlihat lemah di depan Aydan. Tidak ingin dikasihani, tidak ingin semua pertengkaran kecil mereka berubah jadi rasa iba.
Sejak saat itu, sesuatu dalam diri Nazeya berubah. Ia jadi lebih diam, lebih tertutup, dan lebih jauh bahkan dari orang yang paling dekat dengannya.
Tak lama setelah kelulusan, Nazeya membuat keputusan besar, ia akan kuliah di Berlin. Keputusan itu terasa seperti pelarian, tapi juga seperti satu-satunya cara untuk bernapas lagi.
Dan lagi-lagi, ia merahasiakannya dari Aydan. Hari keberangkatannya berlangsung tanpa drama. Tidak ada perpisahan panjang, tidak ada tangisan di bandara yang dibagi ke orang-orang terdekatnya.
Nazeya pergi diam-diam, hanya pamit secukupnya ke orang tua Aydan, dan meninggalkan semua yang ia kenal termasuk Aydan.
Di Berlin, Nazeya mencoba membangun hidup baru. Ia terlihat baik-baik saja dari luar—foto-foto di kafe, jalanan kota, suasana kampus. Tapi di balik itu, ia masih menyimpan semuanya, kehilangan, kesepian, dan rasa bersalah karena meninggalkan seseorang tanpa penjelasan.
Sementara itu, Aydan mulai merasa ada yang tidak beres. Nazeya menghilang begitu saja, nomornya berubah, kontaknya hilang, bahkan nomor sepupunya yang lain ikut terhapus.
Aydan yang biasanya santai, kali ini merasa ditinggalkan tanpa alasan. Ia mencari, bertanya, bahkan mencoba menghubungi lewat berbagai cara, tapi tidak ada jawaban.
Sampai suatu hari, Aydan menemukan sebuah foto. Foto Nazeya di sebuah kafe di Berlin. Duduk sendiri, mengenakan hoodie besar yang menutupi sebagian wajahnya.
Terlihat tenang… tapi juga seperti menyembunyikan sesuatu, itu jadi titik pecah. Aydan akhirnya mengirim pesan panjang campuran marah, kecewa, dan sakit hati.
Ia mempertanyakan semuanya, kenapa Nazeya pergi tanpa kabar, kenapa menghapus nomor, kenapa menghilang seolah-olah tidak pernah ada hubungan di antara mereka. Ia bahkan membawa hal-hal kecil dari masa lalu, janji-janji, kebiasaan, hal-hal sepele yang dulu mereka perdebatkan tapi ternyata berarti.
Di balik kata-katanya, jelas bahwa Aydan merasa ditinggalkan. Dan Nazeya membaca semua itu dalam diam, untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa semua yang ia sembunyikan bukan hanya melindungi dirinya sendiri tapi juga melukai orang lain.
Orang yang paling dekat dengannya, orang yang meskipun sering bertengkar, selalu ada.
Nazeya menatap layar ponselnya lama setelah pesan dari Aydan berhenti masuk.
Kata-kata itu masih terasa menggantung—tajam, berantakan, tapi jujur. Ia bisa merasakan emosi Aydan di setiap kalimatnya, marah, kecewa, juga terluka.
Tangannya sempat bergerak untuk membalas, mengetik beberapa kata, lalu menghapusnya lagi. Berkali-kali.
Nazeya tidak terbiasa menjelaskan dirinya. Sejak ibunya pergi, ia terbiasa menelan semuanya sendiri. Diam terasa lebih mudah daripada harus membuka sesuatu yang belum sempat ia pahami sepenuhnya.
Tapi kali ini berbeda, kalau ia diam lagi, ia tahu ia benar-benar akan kehilangan Aydan. Akhirnya, dengan napas panjang yang terasa berat, Nazeya mulai mengetik.
"Dan, gue minta maaf."
Ia berhenti sejenak. Kata itu terasa asing, tapi juga perlu. "Bukan karena lo marah, tapi karena gue emang salah."
Jarinya sedikit gemetar, tapi ia lanjut. "Gue gak pergi karena mau ninggalin lo. Gue… gak tau gimana cara cerita waktu itu."
Nazeya menatap kalimat itu beberapa detik sebelum lanjut mengetik. "Banyak hal kejadian barengan. Gue putus, terus nyokap gue meninggal."
Untuk pertama kalinya, ia menuliskan itu dengan jelas. Tanpa disamarkan, tanpa ditahan. "Dan gue gak kuat, Dan. Gue bener-bener gak kuat."
Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Apartemen yang dingin tiba-tiba terasa semakin sepi. "Gue takut kalau gue cerita ke lo, semuanya jadi nyata. Gue takut diliat lemah. Gue takut lo berubah ke gue."
Ia mengusap cepat air matanya, lalu lanjut.
"Jadi gue milih kabur, ke Berlin. Mulai dari awal, dan iya gue salah karena ninggalin lu tanpa penjelasan."
Beberapa detik berlalu. Nazeya menatap layar, ragu. Lalu ia menambahkan satu kalimat terakhir. "Tapi bukan berarti gue gak peduli. Justru karena lo penting, gue gak tau harus gimana."
Pesan itu terkirim. Nazeya meletakkan ponselnya di samping, dadanya terasa sesak. Ia tidak tahu bagaimana Aydan akan merespons. Mungkin masih marah, mungkin malah makin kecewa.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.
Hingga akhirnya layar ponselnya menyala.
Nama Aydan muncul lagi, Nazeya ragu untuk membuka, tapi akhirnya ia menekan notifikasi itu, balasannya tidak panjang. "Kenapa gak bilang dari awal, Ze?"
Sederhana. Tapi cukup untuk membuat Nazeya menahan napas, tak ada marah berlebihan, tak ada kata kasar seperti sebelumnya, justru itu yang terasa lebih menyakitkan. Nazeya mengetik lagi, karena gue takut kehilangan lo juga."
Kali ini, jawabannya datang lebih cepat.
"Lu kira dengan cara gini gw gak bakal ngerasa kehilangan?"
Nazeya terdiam, ia tidak punya jawaban untuk itu.
Percakapan mereka malam itu berjalan pelan, tidak lagi penuh emosi seperti sebelumnya, tapi juga belum sepenuhnya hangat.
Aydan akhirnya tahu semuanya—tentang kepergian, tentang kehilangan, tentang alasan di balik diamnya Nazeya, dan Nazeya, untuk pertama kalinya, membiarkan dirinya dilihat apa adanya.
Beberapa detik, lalu satu pesan lagi masuk.
"Orang yang suka kabur, apakah masih ada di unit 1008?"
Nazeya tersenyum kecil—senyum pertama yang terasa ringan setelah sekian lama, hari itu akhirnya datang.
Nazeya berdiri dengan tangan dingin dan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tidak yakin bagaimana pertemuan itu akan berjalan.
Apakah akan canggung?
Atau… seperti dulu?
Lalu, ia membuka pintu Apartemennya. Aydan masih dengan ekspresi yang sama. Sedikit jutek, sedikit sok santai. Nazeya melangkah mendekat, begitu juga Aydan.
Mereka berhenti beberapa langkah satu sama lain, diam sejenak, lalu Aydan menghela napas.
“Lo makin kurus,” katanya datar.
Nazeya mengangkat alis. “Lo masih nyebelin.”
Hening sepersekian detik. Lalu, tanpa banyak kata, Aydan menarik Nazeya ke dalam pelukan.
Nazeya membeku sesaat, sebelum akhirnya membalas pelukan itu, kalinya sejak semuanya terjadi, ia tidak merasa sendirian.
G
Comments